Palestina kembali membara. Beberapa minggu yang lalu, Israel menyatakan akan membangun pemukiman di Jerusalem Timur yang merupakan wilayah Palestina.  Aksi ini membuat AS meradang dan meminta Israel untuk segera menghentikan rencana pembangunan tersebut. Permintaan AS ini ditolak mentah-mentah oleh pemerintahan Netanyahu. Bahkan tatkala Joe Biden, Wapres AS yang dekat dengan Israel ini berkunjung ke Israel, Menteri Dalam Negeri Israel mengumumkan pembangunan 1.600 unit perumahan baru di Ramat Shlomo, daerah yang masuk wilayah Palestina menurut garis batas tahun 1967. Bagi AS, ini adalah sebuah penghinaan dan langsung mengeluarkan kutukan keras terhadap tindakan Israel ini. Untuk menggambarkan ketegangan ini, Duta Besar Israel untuk AS, Michael Oren telah mengatakan kepada sesama diplomat Israel bahwa hubungan bilateral Israel- AS berada pada kondisi paling buruk semenjak pertengahan 1970-an.

Doktrin Luar Negeri AS

Sudah menjadi kebijakan tradisional Israel bahwa setiap inisiatif konsesi perdamaian di Timur-Tengah harus diikuti jaminan dukungan terhadap keamanan Israel. Di tahun 1949, ketika Presiden Truman menuntut penghentian invasi Israel terhadap Mesir, sebagai imbalannya Israel meminta perundingan dengan negara Arab yang berujung kepada pengakuan eksistensinya di Timur-Tengah. Pada tahun 1974, Israel rela berdamai dengan Mesir dan Suriah dengan imbalan adanya pasokan logistik dari AS terhadap Israel Pasca Perang Yom Kippur. Perjanjian terakhir dimana Israel menukar perdamaian dengan keamanan terjadi pada tahun 1991, ketika Israel menyepakati paket proses perdamaian komprehensif dengan imbalan adanya penyebaran antimissil Amerika selama perang Irak Pertama.

Bagi AS sendiri, doktrin keamanan yang selama ini dianut dalam politik luar negeri adalah mencipakan bandwagon effect melalui pembentukan aliansi sekutu yang loyal. Selama perang Dingin hingga sekarang, AS terus memperkuat aliansi Transatlantik agar dapat terus melakukan penangkalan (containment policy) terhadap dominasi Uni Soviet di Eropa. AS juga terus menjaga aliansinya dengan negara-negara lain di berbagai regional;  baik Israel di Timur-Tengah maupun Jepang di Asia Timur.

Namun di bawah Obama, tampaknya tradisi kebijakan luar negeri  ini berubah. pada satu sisi, dalam menghadapi perang melawan teror, Obama mengambil jalur alternatif dengan membangun dialog yang mendepankan respek terhadap dunia Islam. Dalam pidatonya tahun 2009, Obama berjanji akan memperbaiki hubungannya dengan Islam. hal ini terlihat dari pengurangan pasukan di Irak, dan penutupan penjara Guantanamo.

Di sisi lain, pada saat yang bersamaan, kaum Neo Konservatif di Senat dan Kongres mengkritik Obama yang dianggap menjauhi teman-teman terdekat AS seperti Israel dimana permasalahan “kecil” seperti pembangunan perumahan di Jerusalem Timur menjadi isu besar bagi Obama, sementara ancaman nyata misil Iran dan ekonomi dari musuh-musuh AS, seperti Iran dan Cina, Obama masih terlalu soft dalam menghadapi Nuklir Iran, Misil Rusia, dan kekuatan Ekonomi Cina.

Dari Aliansi ke Kompetitor

Robert Kagan, intelektual konservatif AS melihat inkonsistensi antara Kebijakan Luar Negeri Obama dengan tradisi Politik Luar Negeri AS. Selama kurun satu setengah tahun masa pemerintahannya, Obama menghabiskan banyak energi untuk membangun hubungan dengan para kompetitornya tinimbang menjaga keutuhan para pendukungnya. Tinimbang mempererat hubungan dengan sekutu-sekutu tradisionalnya, AS terus berusaha melakukan diplomasi dengan Rusia, Iran, Cina, dan negara-negara Arab.

Sampai sekarang, AS masih melakukan negosiasi dengan Rusia. Tak tanggung-tanggung, Obama setuju untuk menegosiasikan pemasangan Tameng Anti Misil di Polandia dan Ceko yang membuat Sekutu AS di Eropa tidak merasa bahagia. Usaha Diplomatik Obama untuk mengimbau Beijing untuk melaksanakan kebijakan nilai tukarnya berorientasi pasar pun bertepuk sebelah tangan. Beijing menolak tekanan asing termasuk AS untuk meningkatkan nilai Yuan terhadap Dollars. Hal ini akan semakin memperarah defisit perdagangan AS-Cina. Selain itu, pendekatan yang cukup lunak dengan stict and carrot diplomacy-nya terhadap Iran selama setahun pertama pemerintahan Obama dinilai gagal oleh banyak pengamat termasuk Edward Luttwak karena jawaban menurutnya jawaban bagi permasalahan Iran adalah regime changes.

Permasalahan dengan Israel akhir-akhir ini tentu menjadi batu sandungan pula bagi Obama dalam menghadapi para sekutunya. Untuk membuktikan kepada negara-negara Arab dan dunia Muslim bahwa Amerika Serikat bersedia menekan Israel untuk memajukan proses perdamaian telah membuat sekutu terdekat AS di Timur-Tengah ini marah.

Inovasi dan Pengorbanan

Kebijakan luar negeri yang sedang dilakukan Obama bisa jadi inovasi terbesar dalam 60 tahun sejarah kebijakan luar negeri AS. Kebijakan tua dari era PD II yang bertumpu pada jaringan global aliansi formal militer dan politik dengan sesama negara sekutu, akhirnya lambat laun mulai ditingalkan Obama. Dengan kebijakan luar negerinya akhir-akhir ini, Obama  seperti sedang menepati janji-janjinya untuk menciptakan dunia yang lebih multipolar.

Foreign Policies begins at home, adagium ini juga berlaku bagi Obama. Akan ada biaya yang ditanggung Obama dalam inovasi yang dibuatnya. Tentunya kekuatan Lobi Israel akan merongrong pemerintahan Obama mengingat AIPAC telah melakukan lobi terhadap setengah anggota kongres AS dengan Joe Lieberman sebagai punggawanya. Belum lagi fakta bahwa 6 dari 10 orang AS masih bersimpati terhadap Israel. Meski demikian, kita tetap berharap inovasi dalam politik luar negeri AS di tangan Obama, akan membawa perubahan signifikan bagi AS dalam menyikapi isu konflik Israel- Palestina.

Inovasi ini memang menyakitkan bagi AS dan sekutunya. Namun AS pernah melakukan hal yang serupa di era Franklin Roosevelt dimana dia memberikan Cina (bukan pemenang PD II) kursi di DK PBB dan membantu perekonomian Jerman dan Jepang. Untuk membangun multilateralisme, lebih baik bekerja sama dengan kompetitor daripada memberikan seluruh loyalitas kepada sekutu.

Advertisements