It does not matter whether a cat is black or white; if it catches mice, it is a good cat

Deng Xiaoping

Kedepan, kekuatan ekonomi Cina akan sangat susah untuk ditandingi. China telah menyalip Jerman sebagai eksportir terbesar di dunia.  Sampai sekarang, cadangan devisa Cina adalah yang terbesar di dunia dengan total lebih dari 2 triliun dollar. Pertumbuhan ekonomi pun berada di level 10,7%, melebihi setiap prediksi yang dilakukan terhadap pertumbuhan ekonomi Cina.Dengan pertumbuhan ekonomi yang mencapai dua digit ini, dapat dipastikan Cina akan menyalip Jepang menjadi Negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia. Salah satu faktor utama yang membuat Cina mampu tumbuh sedemikian rupa menyaingi negara-negara maju lainnya adalah pemahaman mereka yang mendalam akan kebijaksanaan yang dikembangkan oleh bangsa Barat.

Kishore Mahbubani berujar bahwa rahasia kebijaksanaan yang membuat peradaban Barat mencapai puncak kejayaannya di abad ke-20 adalah pragmatisme. Lebih dari seabad yang lalu, Jepang telah memahami kebijaksanaan ini dan mengimplementasikannya dalam restorasi Meiji. Tiga dekade yang lalu, seorang pragmatis tulen bernama Deng Xiaoping telah mengubah perjalanan sejarah bangsa Cina dengan menerapkan pragmatisme di setiap bidang kehidupan Cina.

Pragmatisme Cina

Dalam khazanah filsafat, Pragmatisme selalu diidentifikasikan sebagai sesuatu yang menjijikkan dan tidak pantas. Dalam kehidupan sehari-hari, pragmatis terkadang digunakan untuk merujuk kepada perilaku yang tidak baik. Padahal, pragmatisme merupakan cara pandang yang selalu membuka diri terhadap kebenaran dan tidak mencoba mencari kebenaran absolut. Cara pandang ini menghasilkan perilaku yang tidak terkungkung oleh ideologi dan kepercayaan sempit. Weber berpendapat bahwa spirit protestanisme yang membidani kapitalisme tak dapat dilepaskan dari etika pragmatisme. Adalah spirit pragmatisme yang melepaskan Amerika dari kepercayaan akan rasisme dan ethnic intolerance menuju pengakuan hak-hak sipil yang universal. Dalam era globalisasi ini, pragmatisme adalah panduan terbaik yang dapat digunakan mengarungi perjalanan menghadapi tantangan abad ke-21. Pragmatisme bukanlah sesuatu yang keliru dan harus dijauhi. Sebaliknya, pragmatisme mampu menciptakan optimisme dan membuang hambatan-hambatan yang biasa terselubung dalam doktrin-doktrin ideologi yang kaku.

Sikap pragmatisme selalu lebih baik daripada sikap yang didasari kepercayaan ideologi yang kaku. Keputusan Cina untuk meningkatkan ketergantungan perdagangan dan ekonomi dengan Jepang merupakan keputusan pragmatis karena Cina mengabaikan hubungan yang kurang baik diantara keduanya yang selama ini terjadi. Cina juga tidak ambil pusing saat negara-negara Barat memprotes rendahnya penerapan hak asasi manusia di negara-negara Afrika. Cina malah semakin intensif melakukan kerja sama serta memberikan bantuan kepada negara-negara Afrika.

Tatkala AS secara tegas menolak melakukan negosiasi dengan Iran, Cina justru memilih jalan diplomasi dan menolak mentah-mentah sanksi terhadap Iran. Masih segar diingatan kita tatkala hampir semua negara mengutuk pemerintahan Junta Militer Myanmar yang memberangus Demokrasi, Cina malah menjadi mitra dagang terbesar bagi Myanmar. Bagi Cina, diplomasi adalah diplomasi dan perdagangan adalah perdagangan. Cina memahami bahwa urusan dalam negeri suatu negara bukanlah urusannya. Cina pun paham perekonomian jauh lebih penting tinimbang politik. Hal inilah yang luput dilihat Gorbachev tatkala ia lebih memilih Gastnost (reformasi politik) tinimbang perestorika  (reformasi Ekonomi).

Cina juga telah mencoba keluar dari permasalahan cultural constraints yang dihadapinya untuk terlibat aktif dalam budaya global. Sekarang, Kota-kota di Cina terlihat seperti kota-kota di Barat. Warga Cina berpakaian layaknya mencoba meniru mannerism orang Amerika. Merk-merk Barat yang dapat diakses jauh lebih banyak berterbaran di Cina menandakan usaha Cina untuk mentransformasi dirinya menjadi bagian dari dari warga negara Dunia dimata orang-orang Amerka dan Eropa.

Pragmatisme Cina yang selalu melihat kedalam tinimbang keluar membuat kebangkitan Cina selalu dilihat sebagai kebangkitan yang damai (the peaceful rice of China). Cina selalu fokus membangun peradaban Cina daripada membangun peradaban dunia. Tak heran, Cina tidak pernah terbebani untuk menjadi polisi dunia yang bereaksi terhadap segala permasalahan yang muncul. Terlepas dari ideologi komunis yang dianut negara ini, pada dasarnya Cina telah menjadi bangsa pragmatis sejati yang mampu meraih capaian-capaian yang belum mampu ditandingi oleh bangsa Asia manapun.

Indonesia dan Pragmatisme

Sekali lagi, adalah sikap pragmatisme yang  menghantarkan Amerika Serikat menjadi negara adikuasa meski sekarang Amerika malah cenderung meninggalkan pragmatismenya demi pandangan-pandangan ideologi konservatif kaum hawkish. Jepang berhasil mengimplementasikan pragmatisme dengan mengambil berbagai macam best practice negara negara Barat untuk diterapkan di beberapa aspek kehidupannya. Cina dibawah Deng Xiaoping telah mengikuti jalan serupa yang dilalui oleh negara-negara maju lainnya. Cina pasca Deng adalah Cina yang terus melejit menjadi kekuatan baru dunia. Tak peduli apakah negara dijalankan dengan demokrasi atau tidak, Cina terus menggapai mimpi-mimpi besarnya untuk menjadi kekuatan dunia yang mumpuni. Cina memberikan contoh kepada negara-negara berkembang lainnya untuk berjalan menuju modernitas dengan etika pragmatisme.

Bangsa ini harus lebih berani untuk bersikap pragmatis di segala aspek berbangsa. Sebagaimana yang diucapkan oleh Deng Xiaoping, It does not matter wheter a cat is black or white; if it catches mice, it is a good cat. Kita harus menyadari bahwa persoalan sesungguhnya bukan pada apa yang layak, tetapi pada kesejahteraan rakyat Indonesia secara keseluruhan. Bagaimana caranya? Kebijaksanaan pragmatisme akan memberikan kita jalan.

Advertisements